Kamis, 11 Oktober 2012

BELAJAR NAWU SHOROF

* PENERTIAN NAHWU

NAHWU adalah kaidah-kaidah  Bahasa Arab untuk mengetahui bentuk kata dan keadaan-keadaannya ketika masih satu kata (Mufrod) atau ketika sudah tersusun (Murokkab). Termasuk didalamnya adalah pembahasan SHOROF. Karena Ilmu Shorof bagian dari Ilmu Nahwu, yang ditekankan kepada pembahasan bentuk kata dan keadaannya ketika mufrodnya.
Jadi secara garis besar, pembahasan Nahwu mencakup pembahasan tentang bentuk kata dan keadannya ketika belum tersusun (mufrod) , semisal bentuk Isim Fa’il mengikuti wazan فاعل, Isim Tafdhil mengikuti wazan أفعل, berikut keadaan-keadaannya semisal cara mentatsniyahkan, menjamakkan, mentashghirkan dll. Juga pembahasan keadaan kata ketika sudah tersusun (murokkab) semisal rofa’nya kalimah isim ketika menjadi fa’il, atau memu’annatskan kalimah fi’il jika sebelumnya menunjukkan Mu’annats dll.
Satu kata dalam Bahasa Arab disebut Kalimah (الكَلِمَة) yaitu satu lafadz yang menunjukkan satu arti.
Kalimat atau susunan kata dalam Bahasa Arab disebut Murokkab (المُرَكَّب). Jika kalimat / susunan kata tersebut telah sempurna, atau dalam kaidah nahwunya telah memberi pengertian dengan suatu hukum ” Faidah baiknya diam” maka kalimat sempurna itu disebut Kalam (الكَلاَم) atau disebut Jumlah (الجُمْلَة).
Kalimah-kalimah dalam Bahasa Arab, diringkas menjadi tiga macam:
1. Kalimah Fiil (الفِعْلُ) = Kata kerja
2. Kalimah Isim (الإِسْمُ) = Kata Benda
3. Kalimah Harf (الحَرْفُ) = Kata Tugas.
Khusus untuk Kalimah Fi’il, bisa dimasuki: قد, س, سوف, Amil Nashob ان dan saudara-saudaranya, Amil Jazm, Ta’ Fa’il, Ta’ Ta’nits Sakinah, Nun Taukid, Ya’ Mukhotobah.
Khusus untuk Kalimah Isim, bisa dimasuki: Huruf Jar, AL, Tanwin, Nida’, Mudhof, Musnad.
Khusus untuk Kalimah Harf, terlepas dari suatu yang dikhusukan kepada Kalimah Fiil dan Kalimah Isim.
Menurut wazannya, asal Kalimah terdiri dari tiga huruf, 1. Fa’ fi’il, 2. ‘Ain Fi’il, 3. Lam Fi’il (َفَعَل). Apabila ada tambahan asal, maka ditambah 4. Lam fi’il kedua (َفَعْلَل). Apabila ada tambahan huruf bukan asal. maka ditambah pula pada wazannya dengan huruf tambahan yang sama, semisal  ٌمُسْلِم ada tambahan huruf Mim didepannya, maka ikut wazan مُفْعِلٌ.

* PEMBAHASAN KATA KERJA

Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’, Fi’il Amar

 

Kata kerja atau Kalimah F’il terbagi tiga:
1. Fi’il Madhi – Kata kerja Bentuk Lampau:
Kata kerja menunjukkan kejadian bentuk lampau, yang telah terjadi sebelum masa berbicara. Seperti :

قَرَأَ

Telah membaca”.
Tanda-tandanya adalah dapat menerima Ta’ Fa’il dan Ta’ Ta’nits Sakinah. Seperti :

قَرَأْتُ

QORO’TU = “Aku telah membaca” dan

قَرَاَتْ

QORO’AT = “Dia (seorang perempuan) telah membaca”.
2. Fi’il Mudhori’ – Kata kerja bentuk sedang atau akan:
Kata kerja menunjukkan kejadian sesuatu pada saat berbicara atau setelahnya, pantas digunakan untuk kejadian saat berlangsung atau akan berlangsung.
Dapat dipastikan kejadian itu terjadi saat berlangsung dengan dimasukkannya Lam Taukid dan Ma Nafi. Seperti:

قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ

Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku…

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

…Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati…
Dapat dipastikan kejadian itu terjadi akan berlangsung dengan dimasukkannya :

س, سوف, لن, أن, ان.

SYIN, SAUFA, LAN, AN dan IN
Seperti:

سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى

dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَن تَرَانِي

berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلاًّ مِّن سَعَتِهِ

Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya.
Tanda-tanda Fi’il Mudhori’ adalah: bisa dimasuki لَمْ seperti contoh:

لَمْ يَقْرَأْ

artinya: tidak membaca.
Ciri-ciri Kalimah Fi’il Mudhari’ adalah dimulai dengan huruf Mudhoro’ah yang empat yaitu أ – ن – ي – ت disingkat menjadi أنيت.
Huruf Mudhara’ah Hamzah dipakai untuk Mutakallim/pembicara/orang pertama tunggal/Aku. contoh

أضرب

ADHRIBU = aku akan memukul
Huruf Mudhara’ah Nun dipakai untuk Mutakallim Ma’al Ghair/pembicara/orang pertama jamak/Kami. contoh

نــضرب

NADHRIBU = kami akan memukul
Huruf Mudhara’ah Ya’ dipakai untuk Ghaib Mudzakkar/orang ketiga male, tunggal, dual atau jamak/dia atau mereka. contoh

يــضرب

YADHRIBU = dia (pr) akan memukul

يــضربان

YADHRIBAANI = dia berdua (lk-pr) akan memukul

يــضربون

YADHRIBUUNA = mereka (lk) akan memukul

يــضربن

YADHRIBNA = mereka (pr) akan memukul
Huruf Mudhara’ah Ta’ dipakai untuk Mukhatab secara Mutlaq/orang kedua male atau female, juga dipakai untuk orang ketiga female tunggal dan dual. contoh

تــضرب

TADHRIBU = kamu (lk)/dia (pr) akan memukul

تــضربا

TADHRIBAA = kamu berdua (lk-pr)/dia berdua (pr) akan memukul

تــضربون

TADHRIBUUNA = kamu sekalian (lk) akan memukul

تــضربين

TADHRIBIINA = kamu (pr) akan memukul

تــضربن

TADHRIBNA = kamu sekalian (pr) akan memukul
3.  Fi’il Amar – Kata kerja bentuk perintah :
Kata kerja untuk memerintah atau mengharap sesuatu yang dihasilkan setelah masa berbicara. contoh:

اقْرأْ

IQRO’ = bacalah.
Tanda-tandanya adalah dapat menerima Nun Taukid beserta menunjukkan perintah. contoh

اقْرَأَنَّ

IQRO’ANNA = sungguh bacalah.



 

Isim Fi’il (أسماء الأفعال)

 

Pengertian Kalimah-kalimah kategori ISIM FI’IL adalah Lafadz yang menunjukkan arti pekerjaan/Fi’il (الفعل) akan tetapi tidak dapat menerima tanda-tanda Fi’il (kata kerja).
Isim Fi’il ada tiga macam:
  1. Isim Fi’il Madhi menunjukkan arti seperti Fi’il Madhi (Kata kerja bentuk lampau). Contoh:

    هَيَهَاتَ
    (Haihaatah)menunjukkan arti “Telah jauh”.
    هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ
    jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu
    شَتَّانَ (Syattaanah) menunjukkan arti “Telah terpisah/bercerai-berai”
  2. Isim Fi’il Mudhari’ menunjukkan arti seperti Fi’il Mudhari’ (Kata kerja bentuk sedang atau akan). Contoh:

    وَيْ
    (Waeh)menunjukkan arti “Saya heran/saya takjub/saya kagum”.
    وَىْ كَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
    Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)

    أُفٍّ (Off) menunjukkan arti “Saya berkeluh-kesah/saya menggerutu/cih,cis”.
    فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ
    maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”
  3. Isim Fi’il Amar menunjukkan arti seperti Fi’il Amar (Kata perintah). Contoh:

    صَهْ
    (Shoh!) menunjukkan arti “Diamlah!” آمِيْن (Aamien) menunjukkan arti “Kabulkanlah!”
Pembagian Isim Fi’il ada dua:
  1. Isim Fi’il Murtajal adalah Kalimah yang mana pembawaan awal pemakaiannya sebagai Isim Fi’il. Sebagaimana pada contoh-contoh diatas.
  2. Isim Fi’l Manqul adalah Kalimah yang dipakai juga pada selain Isim Fiil, kemudian ditukil menjadi Isim Fi’il.

    Baik penukilan itu berupa
    Jar-majrur.
    Semisal عَلَيْكَ (‘Alaiek) “Harus”, إِلَيْكَ (Ilaiek) “Ambillah” dll.Atau berupa Zharaf
    Semisal دُوْنَكَ (Duunak) “Ambillah” , مكانَكَ (Makaanak) “Tetaplah pada tempatnya,   أمامَكَ (Amaamak) “Majulah”, وراءِكَ (Waraa’ik) “Mundurlah”. dll. Atau berupa Masdar
    Semisal  رُوَيْدَ (Ruwaieda) “Segan” بَلْهَ (Balhah) “Cuek”. dll.
Penggunaan Isim Fiil tetap dalam satu bentuk keadaan, baik untuk tunggal, dual, jamak, atau baik untuk male, female. Kecuali jika penggunaannya menggunakan huruf Kaf (ك) maka dapat berubah tergantung keadaan pada kata ganti/Dhamir. semisal عَلَيْكُنَّ, عَلَيْكُمْ, عَلَيْكُمَا, عَلَيْكِ, عَلَيْكَ
Status Isim Fi’il adalah Sima’i (سماعي) kalimah bangsa pendengaran, artinya bawaan dari orang Arab. Kecuali ada Isim Fi’il berpola/berwazan  فَعَالَ semisal نَزَالَ, قَتَالَ maka yang seperti ini, diqiyaskan kepada tashrif  Fi’il Tsulatsi yang Mutashorrif tanpa Naqish.



Isim Aswat أسماء الأصوات

Semua Isim Ashwat diserupakan hukumnya kepada Isim Fi’il, artinya tetap menggunakan satu bentuk lafal dalam penunjukan suatu makna, beramal tapi tidak dapat diamali, baik untuk tunggal, dual, jamak, male dan female.
Isim Aswat ada dua kategori:
1. Lafazh-lafazh yg ditujukan kepada Hewan yg tidak berakal atau tidak dapat berbicara (seperti anak kecil). contoh:
هَيْدٌ “Haid!” atau هَاد “Haad!” dipakai untuk membentak Unta yang lambat jalannya agar kencang.
هُسْ “Hus” dipakai untuk menghalau Kambing.
كَِخْ كَِخْ “kakh-kakh” dipakai untuk mencegah anak kecil. Dll
2. Untuk menceritakan Bunyi/suara dari hewan atau benda mati dll. contoh:
غاق “Ghaaq” suara burung gagak.
طق “Thaq” suara batu jatuh.
قب “Qabb” suara pukulan pedang. dll
semua Isim Aswat adalah Sima’iy bawaan dari orang arab.


Mujarrad dan Mazid


Selanjutnya pada subpage “Pembahasan kata kerja” kali ini,  adalah tentang Mujarrad dan Mazid. Sebagian pembahasan ini, telah saya posting pada subpage belajar I’lal.
Kata kerja/kalimah fi’il terbagi menjadi Mujarrad dan Mazid. Fi’il Mujarrad adalah Fi’il yang semua huruf-hurufnya asli. Fi’il Mazid adalah fi’il yang ditambahi satu haruf atau lebih pada huruf-hurufnya yg asli.
Fi’il Mujarrad terdapat dua bagian, Tsulatsi dan Ruba’i:
  • Fi’il Tsulatsi yang Mujarrad (kalimah bangsa 3 huruf asli tanpa tambahan) ada 6 Wazan. Silahkan buka disini
  • Fi’il Ruba’I yang Mujarrad (kalimah bangsa 4 huruf asli tanpa tambahan) ada 1 Wazan. Silahkan buka disini
Fi’il Mazid juga ada dua bagian, Tsulatsi dan Ruba’i.
Fi’il Tsulatsi yang Mazid (kalimah bangsa 3 huruf asli berikut tambahan 1/ 2/ 3 Huruf):
Fi’il Ruba’i yang Mazid (kalimah bangsa 4 huruf asli berikut tambahan 1 / 2 huruf):
Dengan demikian kalimah fi’il dalam bahasa arab, secara pertimbangan jumlah hurufnya terdapat empat bentuk; 3 huruf, 4 huruf, 5 huruf dan 6 huruf. dan kalau dipertimbangkan dari jumlah wazannya terdapat 22 bentuk wazan.
PENTING UNTUK DIKETAHUI…!
  1. Tidak musti semua kalimah fi’il mujarrad bisa diberlakukan untuk fi’il mazidnya, contoh: لَيسَ، “bukan” خَلا “selain” dan semisalnya dari semua fi’il Jamid. Begitupun sebaliknya tidak musti tiap kalimah fi’il bentuk mazid bisa berlaku untuk bentuk mujarradnya, contoh: اجْلَوَّذَ, “tergesa-gesa” اعْرَنْدَى “mengeras” dan semisalnya dari fi’il-fi’il yang berwazan افْعَوَّلَ atau افْعَنْلَى . Begitupun juga tidak musti bentuk fi’il mazid yang satu, bisa dipakai bentuk fi’il Mazid yang lain, akan tetapi semua pemakaian bentuk kalimah terlaksana secara sima’i atau bawaan bangsa Arab. Kecuali sebagai pelainan, yaitu untuk Fi’il-fi’il Tsulatsi Lazim yang akan kita Muta’addikan dengan cara memasang Hamzah pada awal kalimah, misalnya: خَرَجَ “keluar” dimuta’addikan menjadi أَخْرَجَ “mengeluarkan”.
  2. Bilamana pada fi’il madhi itu berpola wazan فَعَل (‘ain fi’ilnya berharkah fathah), maka dapat dipastikan bahwa bentuk fi’il mudhari’nya berwazan antara يَفْعَلُ atau يَفْعُلُ atau يَفْعِلُ. (‘ain fi’ilnya berharkah fathah/dhammah/kasrah). Dan bilamana fi’il madhi itu berwazan فَعِل (‘ain fi’ilnya berharkah kasrah), maka dapat dipastikan bahwa bentuk fi’il mudhari’nya berwazan يَفْعَلُ atau jarang berwazan يَفْعِلُ (‘ain fi’ilnya berharkah fathah/kasrah) saja. Dan bilamana fi’il madhi itu berwazan فَعُل (‘ain fi’ilnya berharkah dhammah), maka dapat dipastikan bahwa bentuk fi’il mudhari’nya berwazan يَفْعُلُ (‘ain fi’ilnya berharkah dhammah) saja.
  3. Wazan-wazan fi’il bangsa tiga huruf yang paling banyak ditemukan dalam penggunaanya menurut urutannya adalah sebagai berikut: pertama yang paling banyak ditemukan adalah kalimah fi’il berpola wazan فَعَلَ – يَفْعُلُ , berikutnya wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ , kemudian wazan فَعَلَ – يَفْعَلُ , kemudian wazan فَعِلَ – يَفْعَلُ , kemudian wazan فَعُلَ – يَفْعُلُ , hingga yang paling jarang yaitu berpola wazan فَعِلَ – يَفْعِلُ.
  4. Untuk mengamati wazan kalimah bagsa tiga huruf, perlu diperhatikan adalah bentuk wazan fi’il madhi-nya berikut fi’il mudhari’nya secara bersamaan, dikarenakan berbeda-bedanya bentuk fi’il mudhari’ untuk satu pola wazan fi’il madhi. Dan ada juga yang cukup memperhatikan bentuk Fi’il Madhinya saja, yaitu untuk tiap-tiap kalimah yang berwazan fi’il madhi dengan satu bentuk fi’il mudhari tanpa berbeda-beda, seperti wazan فَعُلَ dengan satu bentuk fi’il mudhari’ يَفْعُلُ.
  5. Ketentuan kalimah fi’il tsulatsi dalam mengikuti suatu wazan tertentu dari 6 wazan tsulatsi mujarrad di atas, bergantung pada ketentuan secara sima’i dari orang arab. Maka tidak bisa dikokohkan melalui pengetahuan secara kaidah-kaidah. Kecuali ada sedikit kemungkinan yang paling mendekati dengan melihat kaidah-kaidah berikut ini:Untuk Fi’il Madhi yang ‘ain fi’ilnya berharkah fathah, apabila huruf awalnya (fa’ fi’ilnya) terdiri dari huruf hamzah atau wau, maka lazimnya banyak berpola wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ contoh: أسَر – يأسِر | أتَى – يأتِي | وعَد – يعِد dan tidak lazim seperti contoh: أخَد – يأخُذُ | أكَل – يأكُل | أمَر – يأمُر .Apabila fi’il madhinya termasuk kalimah bina’ Mudha’af yang Muta’addi, maka yang banyak berpola wazan فَعَلَ – يَفْعُلُ seperti contoh: مدَّ – يمُدُّ | صَدَّ – يصُدُّ dan apabila terdiri dari Bina’ Mudha’af Lazim maka yang banyak berpola wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ seperti contoh:خّفَّ – يخِفّ | شدَّ – يشِدّ . Apabila fi’il madhinya termasuk kalimah bina’ Ajwaf ya’iy atau bina’ Naqish ya’iy, maka yg banyak ikut wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ seperti: باع – يبيع | رمَى – يرمِي dan bilamana termasuk bina’ ajwaf wawi atau Naqish wawi, maka yg banyak ikut wazan فَعَلَ – يَفْعُلُ seperti: قَام – يقُوم | دعَا – يدعُو . dll.
  6. Semua Fi-il-fi’il yang berpola wazan فَعُلَ – يَفْعُلُ semuanya adalah fi’il lazim. kata kerja seperti wazan ini adalah menunjukkan tabi’at/sifat/watak. seperti contoh:  ظرُف – فضُل – حسُن – قبُح “cerdas” – “utama” – “bagus” – “jelek”. dll.
  7. Semua Fi-il-fi’il yang berpola wazan فَعِلَ – يَفْعَلُ  apabila ia Lazim, maka sering menunjukkan tentang kebahagiaan atau kesusahan. contoh: طَرِبَ “bingung” فَرِحَ “gembira” حَزِنَ “sedih”. atau sering menunjukkan tentang Berisi atau Kosong seperti شبِعَ “kenyang” عطِش “haus”. atau banyak menunjukkan tentang cacat atau sempurna. contoh عَمِشَ “trahum/mata kabur/min” غيِدَ “bengkok/miring” dll.
  8. semua fi’il yang berwazan فَعَلَ – يَفْعَلُ dapat dipastikan ‘Ain fi’il atau lam fi’il-nya terdiri dari huruf Halaq (ح – خ – ع – غ – هـ – أ). contoh: فتَح – نشَأ dll.

Jamid dan Mutasharrif

Kata kerja/ kalimah fi’il (الفعل) terbagi menjadi:
  1. Fi’il Jamid (الفعل الجامد)
  2. Fi’il Mutasharrif (الفعل المتصرف).

الفِعْلُ الْجَامِدُ

Fi’il Jamid (statis)


Fi’il Jamid Adalah Kalimah Fi’il yang hanya mempunyai satu bentuk Shighah. Baik hanya berbentuk Fi’il Madhi saja. atau hanya berbentuk Fi’il Amar saja. Atau ada hanya berbentuk Fi’il Mudhari’  saja tapi jarang.

Contoh Fi’il Jamid yang hanya mempunyai bentuk Fi’il Madhi saja:
FI’IL MADHI JAMID
TERJEMAH
CONTOH

عَسَى

Mengharap

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ

mudah-mudahan Allah memaafkan mereka

لَيْسَ

Meniadakan

وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya

بِئْسَ

Celaan, Kecaman

بِئْسَ الرَّجُلُ أبُو لَهَبَ

Seburuk-buruknya lelaki adalah Abu Lahab

نِعْمَ

Pujian, Sanjungan

نِعْمَ الرَّجُلُ أبُو بَكْرٍ

Sebaik-baiknya lelaki adalah Abu Bakar

تَبَارَكَ

Maha Suci

تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam

Contoh Fi’il Jamid yang hanya mempunyai bentuk Fi’il Amar saja:
FI’IL AMAR JAMID
TERJEMAH
CONTOH

تَعَلَّمْ

Percayalah!

تَعَلَّمْ أَنّ الرِّبَا بَلاَءٌ

Percayalah! Sesungguhnya Riba itu membawa petaka

هَبْ

Anggaplah!

فَقُلْتُ أَجِرْنِي أَبَا خَالِدٍ × وَإِلاَّ فَهَبْنِي امْرَأً هَالِكًا

Aku Cuma bisa berkata… pertahankanlah aku wahai Abu Khalid…atau jika tidak… maka anggaplah aku seorang yang telah binasa

تَعَالَ

Kemari!, Yuk!

هَيَّا زَيْد تَعَالَ

Hai Zaid…Kemarilah!

هَاتِ

Bawalah kemari!, Tunjukkanlah!

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.”

Contoh Fi’il Jamid yang hanya mempunyai bentuk Fi’il Mudhari’ saja:
FI’IL MUDHARI’ JAMID
TERJEMAH
CONTOH

يَهْبِطُ

Memekik, mengerang, berteriak karena takut.

الفِعْلُ الْمُتَصَرِّفُ

Fi’il Mutasharrif (elastis)


Fi’il Mutasharrif adalah kalimah fi’il yang dapat berubah bentuknya sesuai tashrif ishtilahiy. Fi’il Mutasharrif terbagi dua:

1. Tam Tasharruf (تام التصرّف)
(sempurna dalam mutasharrif-nya)
Fi’il Tam Tasharruf adalah kalimah fi’il Mutasharrif yang tersedia dalam tiga bentuk Fi’il Tiga Serangkai (Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’ dan Fi’il Amar) seperti نصر dan دحرج.
FI’IL AMAR
FI’IL MUDHARI’
FI’IL MADHI

اُنْصُرْ!

يَنْصُرُ

نَصَرَ

دَحْرِجْ!

يُدَحْرِجُ

دَحْرَجَ


2. Naqis Tasharruf (ناقص التصرّف)
(cacat dalam mutasharrif-nya)
Fi’il Naqis Tasharruf adalah kalimah fi’il Mutasharrif yang tidak tersedia untuk semua bentuk Fi’il Tiga Serangkai. Baik hanya berbentuk Mudhari’ dan Madhi saja, atau Mudhari’ dan Amar saja, Seperti contoh pada table.
FI’IL AMAR
FI’IL MUDHARI’
FI’IL MADHI

×

يَكَادُ

كَادَ

×

يُوْشِكُ

أَوْشَكَ

دَعْ!

يَدَعُ

×

ذَرْ!

يَذَرُ

×


تَصَرُّفُ الْمُضَارِعِ

Tashrif pada Fi’il Mudhari’


Tata cara men-tashrif/pengubahan fi’il mudhri’ yang dibuat dari asal Fi’il Madhi adalah pada awal kalimah fi’il madhi tsb ditambahi dengan Huruf Mudhara’ah (ا – ن – ي – ت).

Huruf Mudhara’ah-nya diharkati dhammah apabila ditambahi pada Fi’il Madhi yang berjumlah empat huruf. contoh table:
HURUF MUDHARA’AH DI-DHAMMAH-KAN
DARI FI’IL MADHI 4 HURUF

يُكْرِمُ

أَكْرَم

يُفَرِّحُ

فَرَّحَ

يُقَاتِلُ

قَاتَلَ

يُدَحْرِجُ

دَحْرَجَ


Huruf Mudhara’ah-nya diharkati Fathah apabila ditambahi pada Fi’il Madhi yang selain berjumlah empat huruf. Lihat tabel berikut:
HURUF MUDHARA’AH DI-FATHAH-KAN
BUKAN FI’IL MADHI 4 HURUF

يَنْصُرُ

نَصَرَ

يَنْكَسِرُ

انْكَسَرَ

يَجْتَمِعُ

اجْتَمَعَ

يَحْمَرُّ

احْمَرَّ

يَتَكَلَّمُ

تَكَلَّمَ

يَتَبَاعَدُ

تَبَاعَدَ

يَسْتَخْرِجُ

اسْتَخْرَجَ

يَعْشَوْشَبُ

اعْشَوْشَبَ

يَجْلَوَّذُ

اجَلَوَّذّ

يَحْمَارُّ

احْمَارَّ

يَتَدَحْرَجُ

تَدَحْرَجَ

يَحْرَنْجَمُ

احْرَنْجَمَ

يَقْشَعِرُّ

اقْشَعَرَّ


تَصَرُّفُ الأَمْرِ

Tashrif pada Fi’il Amar


Tata cara men-tashrif/pengubahan fi’il Amar yang dibuat dari asal fi’il Mudhari’ adalah sebagai berikut:

Huruf Mudhara’ahnya harus dibuang. contoh table:
BENTUK FI’IL MUDHARI’
BENTUK FI’IL AMAR

يُفَرِّحُ

فَرِّحْ!

يُقَاتِلُ

قَاتِلْ!

يُدَحْرِجُ

دَحْرِجْ!

يَتَكَلَّمُ

تَكَلَّمْ!

يَتَبَاعَدُ

تَبَاعَدْ!

يَتَدَحْرَجُ

تَدَحْرَجْ!


Dan bilamana setelah pembuangan Huruf Mudhara’ah pada awal kalimahnya berupa sukun, maka ditambahi Hamzah pada awal kalimah tsb. contoh table:
BENTUK FI’IL MUDHARI
BENTUK FI’IL AMAR

يَنْصُرُ

أُنْصُرْ!

يَنْكَسِرُ

انْكَسِرْ!

يَجْتَمِعُ

اجْتَمعْ!

يَحْمَرُّ

احْمَرِّ!

يَسْتَخْرِجُ

اسْتَخْرِجْ!

يَعْشَوْشَبُ

اعْشَوْشَبْ!

يَجْلَوَّذُ

اجَلَوَّذّ!

يَحْمَارُّ

احْمَارَّ!

يَحْرَنْجَمُ

احْرَنْجَمْ!

هَمْزَتَا الْوَصْلِ وَالْقَطْعِ

(Hamzah Washal dan Hamzah Qatha’)


PENGERTIAN HAMZAH WASHAL

Hamzah Washal berupa Hamzah secara pengucapan dan berupa Alif secara tulisan. Diucapkan ketika menjadi permulaan saja. dan gugur ketika berada pada tengah-tengah penuturan kalimat, sekiranya didahului oleh satu huruf atau satu kalimah.
Hamzah Washal adalah Hamzah zaidah berfungsi sebagai perantara atau penyambung kepada pengucapan huruf mati atau sukun yang berada setelahnya. Hamzah Washal terdapat pada kalimah fi’il, kalimah isim maupun kalimah huruf.

Hamzah Washal yang terdapat pada kalimah Fi’il:

1. Terdapat pada Fi’il Madhi dan Fi’il Amar dari fi’il 5 huruf atau 6 huruf (Khumasiy dan Sudasiy)
LIHAT  TABEL NO. 1:
2. Terdapat pada Fi’il  Amar dari fi’il 3 huruf
LIHAT TABEL NO. 2:
Hamzah Washal yang terdapat pada kalimah Isim :
1. Terdapat pada kalimah isim Masdar dari fi’il 5 huruf atau 6 huruf
LIHAT  TABEL NO. 1:
2. Terdapat pada kalimah isim sepuluh atau sebutan al-Asmaul-’Asyarah (الأسماء العشرة).
LIHAT TABEL NO. 3:
Hamzah Washal yang terdapat pada kalimah Huruf:
1. Hanya terdapat pada satu Kalimah Huruf yaitu AL (ال)  yang berfungsi mema’rifatkan Isim Nakirah ataupun AL zaidah.
LIHAT TABEL NO. 4:

PENGERTIAN HAMZAH QATHA’

Hamzah Qatha’ berupa Hamzah yang selalu diucapkan dengan ber-harkah fathah, dhammah atau kasrah. Tidak gugur pengucapannya baik di awal permulaan kalimat atau ditengah-tengah kalimat. Dan tidak gugur sekalipun berada diantara dua kalimah yang tersambung. tertulis di atas Alif bilamana berharkah fathah atau dhammah, dan dibawah Alif bilamana berharkah kasrah. Bentuknya seperti bentuk kepala Ain (ء). Hamzah Qatha’ terdapat pada selain kategori kalimah-kalimah yang telah disebutkan diatas sebagai Hamzah washal. baik pada kalimah Fi’il, Kalimah Isim dan Kalimah Huruf.

Hamzah Qatha’ yang terdapat pada kalimah Fi’il:

1. Terdapat pada Fi’il Madhi 4 huruf yang berwazan أَفْعَلَ
LIHAT TABEL NO. 5:
2. Terdapat pada Fi’il Mudhari’ yang diawali Hamzah Mudhara’ah (tanda mutakallim/orang pertama tunggal)
LIHAT  TABEL NO. 5:
3. Terdapat pada Fi’il Amar 4 huruf yang berwazan أَفْعَلَ
LIHAT TABEL NO. 5:
4. Terdapat pada Fi’il Madhi Tsulatsi Bina’ Mahmuz  (bisa dilihat di page belajar i’lal subpage bentuk bina’)
LIHAT  TABEL NO. 6:
Hamzah Qataha’ yang terdapat pada kalimah Isim :
1. Semua kalimah Isim yang berawalah Hamzah , tentunya Hamzah Qatha’, selain pada ”Isim yg sepuluh” dan “Isim Masdar dari kalimah Fi’il Khumasi dan Sudasi”
LIHAT  TABEL NO. 8:
Hamzah Qatha’ yang terdapat pada kalimah Huruf:
1. Semua Kalimah Huruf yang berawalah Hamzah tentunya Hamzah Qatha’, kecuali huruf “AL” Pema’rifah.
LIHAT TABEL NO. 7:


HAMZAH WASHAL TABLE NO. 1, Fi’il Madhi, Fi’il Amar dan Isim Masdar dari bangsa 5-6 huruf.

ISIM MASDAR KHUMASI
FI’IL AMAR KHUMASI
FI’IL MADHI KHUMASI

انْكِسَارَاً

اِنْكَسِرْ

انْكَسَرَ

اجْتِمَاعَاً

اِجْتَمِعْ

اجْتَمَعَ

احْمِرَارَاً

اِحْمَرَّ

احْمَرَّ

ISIM MASDAR SUDASI
FI’IL AMAR SUDASI
FI’IL MADHI SUDASI

اسْتِخْرَاجَاً

اِسْتَخْرِجْ

اسْتَخْرَجَ

اعْشِيْشَابَاً

اِعْشَوْشَبْ

اعْشَوْشَبَ

اجْلَوَّاذاً

اِجْلَوَّذْ

اجَلَوَّذَ

احْمِيرَارَاً

اِحْمَارَّ

احْمَارَّ

احْرِنْجَامَاً

اِحْرَنْجَمْ

احْرَنْجَمَ

اقْشِعْرَارَاً

اِقْشَعِرَّ

اقْشَعَرَّ

HAMZAH WASHAL TABLE NO. 2, Fi’il Amar dari Tsulatsi

FI’IL AMAR TSULATSI
FI’IL AMAR TSULATSI
FI’IL   AMAR TSULATSI

اِفْتَحْ

إِضْرِبْ

اُنْصُرْ

اِحْسِبْ

اُحْسُنْ

اِعْلَمْ

HAMZAH WASHAL TABLE NO. 3, Al-Asma ‘Asyarah/Isim Sepuluh

ASMA’ ASYARAH
ASMA’ ASYARAH
ASMA’ ASYARAH

امْرَأَةٌ

اِمْرُؤُ

اِبْنٌ

اِثْنَيْنِ

اِسْمٌ

اِبْنَةٌ

اِثْنَتَيْنِ

اِسْتٌ

ابْنُمُ

ايْمُنُ الله

×

×

HAMZAH WASHAL TABLE NO. 4, Huruf AL = ال

AL MA’RIFAT
AL GHALABAH
AL ZAIDAH

اَلرَّجُلُ

اَلْمَدِيْنَةُ

اَلَّذِيْ

اَلْمُؤْمِن

اَلْعَقَبَة

اَلآنَ

HAMZAH QATHA’ TABLE NO. 5, Fi’il Madhi dan Fi’il Amar Tsulatsi Ruba’i wazan أَفْعَلَ dan semua Fi’il Mudhari’ dg tanda Mutakallim

FI’IL AMAR RUBA’I
SEMUA FI’IL MUDHARI’ DG HAMZAH MUDHARA’AH
FI’IL MADHI RUBA’I

أَكْرِمْ

أَفْتَحُ – أُكْرِمُ – أَتَعَلَّمُ – أَسْتَخْرِجُ

أَكْرَمَ

HAMZAH QATHA’ TABLE NO. 6, Fi’il Tsulatsi Bina’ Mahmuz

FI’IL MADHI TSULATSI MAHMUZ
FI’IL MADHI TSULATSI MAHMUZ
FI’IL MADHI TSULATSI MAHMUZ

أَدَمَ

أَخَذَ

أَمَرَ

أَثَرَ

أَثِمَ

أَدُبَ

HAMZAH QATHA’ TABLE NO. 7, Semua kalimah Huruf selain ال

KALIMAH HURUF
KALIMAH HURUF
KALIMAH HURUF
KALIMAH HURUF
KALIMAH HURUF

إِلاَّ

إِلَى

إِذْ

إِذَنْ

إِذْماَ

أَوْ

إِنَّ

إِنْ

أَماَ

أَمْ

HAMZAH QATHA’ TABLE NO. 8, Semua kalimah Isim Zhahir, Isim Dhamir dan Idza Syarat. Selain hamzah Isim sepuluh dan Masdar Khumasi dan Sudasi (dari Fi’il bangsa 5-6 Huruf).

IDZA SYARAT
ISIM DHAMIR
ISIM DHAMIR
ISIM ZHAHIR
ISIM ZHAHIR

إذَا

أنْتَ

أنَا

أَحْمَدُ

إبرَاهِيْمُ

يَقْشَعِرُّ

اقْشَعِرَّ!



الصَّحِيْحُ وِالْمُعْتَلُّ

BAB SHAHIH DAN MU’TAL

1. Fi’il Shahih
Adalah kalimah fi’il yang bentuk hururf-huruf aslinya, bebas dari huruf illah (و – ا – ي).
Termasuk golongan Fi’il Shahih adalah:
1. Fi’il Bina’ Shahih/Salim (lihat Bina’ shahih di page Belajar I’lal – BINA’ SHAHIH)
2. Fi’il bina’ Mahmuz (tentang Bina’ Mahmuz di page Belajar I’lal – BINA’ MAHMUZ)
3. Fi’il bina’ Mudha’af (tentang Bina’ Mudha’af di page Belajar I’lal - BINA’ MUDHA’AF)

1. Fi’il Mu’tal
Adalah kalimah fi’il yang salah satu atau dua huruf asalnya teridiri dari huruf illah (و – ا – ي).
Termasuk golongan fi’il mu’tal adalah:
1. Fi’il Bina’ Mitsal  (tentang Bina’ Mitsal di page Belajar I’lal - BINA’ MITSAL)
2. Fi’il bina’ Ajwaf (tentang Bina’ Ajwaf di page Belajar I’lal - BINA’ AJWAF)
3. Fi’il bina’ Naqish (tentang Bina’ Naqish di page Belajar I’lal - BINA’ NAQIS)
4. Fi’il bina’ Lafif Mafruq (tentang Bina’ Lafif Mafruq di page Belajar I’lal - BINA’ LAFIF)
5. Fi’il bina’ Lafif Maqrun  (tentang Bina’ Lafif Maqrun di page Belajar I’lal – BINA’ LAFIF)
◊◊◊
Pengamalan Tashrif  Fi’il Shahih dan Fi’il Mu’tal.
Untuk Bina’ shahih atau Fi’il Salim, ia tidak mengalami perubahan dalam mengikuti standar wazannya (tashrif ishthilahi) pun ketika musnad/disandarkan kepada Isim Dhamir atau Isim Zhahir –tunggal/dual/jamak (tashrif  secara lughawi). Contoh untuk bina’ shahih نَصَرَ :
MUSNAD KEPADA FI’IL MUDHARI’ FI’IL MADHI
Orang ketiga male

يَنْصُرُ يَنْصُرانِ يَنْصُرونَ

نَصَرَ نَصَرَا نَصَرُوا

Orang ketiga female

تَنْصُرُ تَنْصُرَانِ يَنْصُرْنَ

نَصَرَتْ نصَرتَا نَصَرْنَ

Orang kedua male

تَنْصُرُ تَنْصُرَانِ تَنْصُرُوْنَ

نَصَرْتَ نَصَرْتُمَا نَصَرْتُمْ

Orang kedua female

تَنْصُرِيْنَ تَنْصُرَانِ تَنْصُرْنَ

نَصَرْتِ نَصَرْتُمَا نَصَرْتُنَّ

Orang pertama

أَنْصُرُ نَنْصُرُ

نَصَرْتُ نَصَرْنَا



Untuk tiap Fi’il selain Bina’ Shahih, diberlakukan juga seperti tashrif Bina’ Shahih didalam mengikuti wazannya  tanpa mengalami perubahan yg berarti, kecuali sebagai berikut:
1. Bina’ Mahmuz, jika pada awal kalimahnya terdapat dua hamzah beriringan, maka hamzah yang kedua diganti Huruf Mad yang sesuai dengan harkah hamzah yang pertama (lihat » Kaidah I’lal ke 11).
→ Pelainan bagi lafazh أَخَذَ – أَكَلَ – أَمَر yang harus membuang hamzah kedua-duanya pada bentuk Fi’il Amarnya menjadi خُذْ – كُلْ – مُرْ.
→ Juga lafazh رَأَىْ dibuang Hamzahnya ‘ain fi’ilnya pada bentuk fi’il mudhari’ dan fi’il amarnya, menjadi يُرَىْ – رَ .
→ Juga lafazh أََََرَىْ yg berwazan أَفْعَلَ dibuang Hamzah  ’ain fi’ilnya pada semua bentuk tashrifannya, menjadi أَرَىْ – يُرَىْ – أَرَ.
2. Bina’ Mudha’af, harus mengalami proses Idgham yaitu memasukkan salah satu dari dua huruf yang sejenis pada salah satu yang lannya, contohمَدَّ – يَمُدُّ. ( lihat » Kaidah I’lal ke 10)
→  Jika huruf yang pertama berharkah dan yang kedua sukun, maka tidak boleh di-idgham bilamana sukunnya karena bersambung dengan dhamir rafa’ mutaharrik, contoh: مَدَدْتُ – يَمْدُدْن
→ Jika dijazemkan pada Fi’il Mudhari’nya atau jika dibentuk Fi’il Amar. maka boleh memilih dua pilihan; tetap di-idgham atau tanpa di-idgham. contoh: لم يَمُدّ – مُدّ atau لم يَمْدُد – اُمْدُد. Bilamana di-idghamkan maka boleh harkah terakhir diharkati Fathah karena ringan, atau diharkati Kasrah karena asal takhallush, atau diharkati Dhammah karena mengikuti harkah ‘Ain Fi’il-nya. maka untuk lafazh مدّ boleh tiga pemilihan karakah. dan untuk lafadz  عضّ boleh dua pemilihan harakah.
3. Bina’ Mitsal, dibuang Fa’ Fi’ilnya pada bentuk Fi’il Mudhari’ dan Fi’il Amar-nya bilamana ia Bina’ Mitsal Wawiy dan ‘Ain Fi’ilnya ber-harkah kasrah. contoh: يعد – يزن – عد – زن. (lihat » Kaidah I’lal ke 7).
→ Maka tidak boleh dibuang yg seperti contoh ينَعَ – يينَع
→ Pelainan atau Syadz untuk lafazh يدَع – يذَر – يسَع – يضَع – يطَأ – يقَع – يهَب.
4. Bina’ Ajwaf, dibuang ‘Ain Fi’ilnya, jika huruf terakhir disukunkan karena jazm atau dibentuk Fi’il Amar. contoh: لم يقم – لم يبع – لم يخف – قم – بع – خف. (lihat » Kaidah I’lal ke 9 )
→ Demikian juga dibuang Ain Fi’ilnya, bilamana bersambung dengan Dhomir Rofa’ Mutaharrik, contoh: قمت – بعنا – خفتم – يقمن – يبعن – خفن. dalam hal ini huruf pertamanya ada yang diharkati Dhammah ataupun Kasrah, untuk menunjukkan pada bentuk huruf yang dibuang wau atau ya’, seperti contoh قمت dan بعت. dan terkadang diharkati Kasrah untuk menunjukkan pada Harkahnya huruf yang dibuang, seperti kita lihat pada contoh  خفتم.
5. Bina’ Naqish, dibuang Lam Fi’ilnya bilamana bersambung dengan dhamir Wau Jama’ atau Ya’ muannats mukhatabah kemudian pada ‘ain fi’ilnya diharkati dengan harkah yang sesuai dengan huruf dhamir tsb seperti contoh رَضُوا – تَدْعِيْن kecuali jika Lam Fi’ilnya yang dibuang itu berupa Alif, maka ‘Ain fi’ilnya tetap lazim berharkah Fathah contoh: سعَوا – تخشَين. (proses lanjutan dari Kaidah I’lal ke 5 dan juga Kaidah I’lal ke 1)
→ Juga dibuang Lam Fi’ilnya bilamana ia berupa Alif (atau setelah proses Kaidah I’lal ke 1 ) dan bersambung dengan Ta’ ta’nits contoh: رَمَتْ – رَمَتَا. Tapi bilamana ia bersambung dengan selain dhamir Wau atau Ya’ (dari dhamir bariz muttashil), maka tidak boleh dibuang akan tetapi dikembalikan pada huruf asalnya (sebelum proses Kaidah I’lal ke 1) demikian ini untuk Fi’il tiga huruf contoh غَزَوْتُ – رَمَيْتُ – غَزَوَا – رَمَيَا. dan diganti Ya’ bilamana termasuk pada fi’il empat huruf, contoh: أَغْزَيْتُ – اِهْتَدَيَا – يُسْتَدْعَيْنَ.
6. Bina’ Lafif Mafruq, berlaku pengamalan seperti yang dialami Bina’ Mitsal dan Bina’ Naqish.
7. Bina’ Lafif Maqrun, berlaku pengamalan seperti yang dialami Bina’ Naqish saja.


@padepokan WARU DOYONG
love_ind@ymail.com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar